Pasarpagi

Juli 11, 2011 - Leave a Response

 

Orang-orang sedang heboh besar. Asal penyebabnya adalah Mbah Petruk. Ya, tadi pagi orang gila yang jago menebak buntutan itu datang lagi. Orang-orang mengira bahwa ia sudah mati ditabrak mobil. Versi lain menyebutkan bahwa ia mati karena kena penyakit kudis. Kudis kronis, kata orang-orang. Tapi Mbah Petruk rupanya tidak begitu saja mati—ia bangkit dari kematian untuk mendatangi orang-orang, kembali dengan wahyu yang ia dapat dari sesosok dewa.

Ada banyak sekali cara Mbah Petruk dalam menyisipkan kehebohan di sela-sela keramaian pasarpagi itu. Tak perlu membayangkan macam-macam, pun tak perlu takut lagi seandainya ia mengibas-ngibaskan lengannya yang penuh kudis sambil berlari melintasi tengah-tengah pasar. Sekarang metode penularan kudis itu sudah terlalu kuno baginya. Ia sekarang hanya memanjat sebuah tower air milik kantor dinas pasar, kemudian duduk rileks di puncaknya sambil melinting kawung.

Orang-orang sudah pada berteriak seperti melihat anak kecil yang sedang bermain-main api. Bu Genuk si bakul bumbon berteriak paling nyaring:

“Mbah, turun! Kalau mau mati, matinya yang biasa saja dong, Mbah!”

“Iya, Mbah! Nanti juga kita mandikan kok,” hansip Mingan menimpali.

Mbah Petruk kemudian bangkit dari duduknya. Gerakannya lincah mirip anak kecil. Padahal, almarhum nenekku saja dulu memanggilnya dengan sebutan paklik—bapak cilik. Berarti, aku seharusnya memanggilnya dengan istilah yang agak merepotkan.

Mbah-buyut-cilik itu kemudian memukul-mukul tandon yang terbuat dari plastik, membuyarkan konsentrasi orang-orang pasar yang sedari tadi terlalu sibuk meributkan diri satu sama lain. Tumben sekali Mbak Mah, si kaleng-seng-bocor itu, kali ini mau merelakan dirinya untuk diam; terutama untuk mendengarkan orang gila itu ceramah. Sementara itu, jauh di ibukota sana, tuan Presiden cemburu karena tak ada orang yang betah mendengarkan pidatonya.

Mbah Petruk mulai menguluksalam: “Asalamungalekum—kum—kum!”

Kemudian, dari mulut yang sudah berkerut-kerut mirip bekicot kering itu, muncul cerita tentang datangnya sesosok makhluk yang bernama Desti. Saking seriusnya orangtua itu bercerita, tak ada satu pasang pun bibir di pasar induk ini yang sudi mengatup. Orang-orang yang sebelumnya berdiri di kejauhan, mulai bergerak mendekati menara air.

“Hai anak-anakku semua,” Mbah Petruk menurunkan nada bicaranya. Suara bisik-bisik di antara para pengunjung pasarpagi kini benar-benar menghilang. Semua khidmat mendengarkan santiaji Mbah Petruk.

“Ketahuilah bahwa makhluk itu, yang bernama Desti, gemar sekali memangsa kaki manusia, anak-anakku—kaki manusia! Kuperingatkan kalian, bahwa dalam setiap lima keluarga, akan ada satu kepala yang dikorbankan kepadanya.”

“Setan alas,” hansip Mingan menggerutu.

Mbak Las, si penjual ikan, bertanya-tanya kepada pedagang di sebelahnya, ”Apa yang harus kita perbuat, Yu?”

Salah seorang pengunjung rupanya telah menghubungi polisi sesaat setelah Mbah Petruk sampai di atas menara air. Bunyi sirene kini terdengar meraung-raung di luar gerbang pasar. Orang-orang menaruh sikap awas terhadap kedatangan tamu baru mereka. Mereka selama ini memang tidak dapat mempercayai Mbah Petruk, karena orang-orang waras ini tak akan pernah dapat memahami satu pun perkataan orang gila itu. Tapi entah kenapa pula sebabnya, saat ini naluri mereka mengatakan: Mbah Petruk adalah penyelamat mereka.

Sebanyak delapan orang polisi mulai bergerak memasuki gerbang pasar. Dengan suatu cara, kerumunan orang pasar rupanya dapat membuat mereka kesulitan mencapai menara air tempat Mbah Petruk berada. Seorang polisi kemudian mengeluarkan sebuah megafon. Ia kemudian mulai memanggil si penunggu menara air.

“Mbah Petruk, anda bisa mendengar saya?”

Yang dipanggil justru semakin asyik menyedot lintingan kawungnya. Polisi itu tak akan keburu menyerah. Berteriak lagi ia:

“Mbah, kami mohon, Mbah. Demi ketertiban umum, Simbah turun.”

“Kalian jangan seenaknya memanggil nama orang. Kalian bukan cucuku,” jawab Mbah Petruk ketus.

Negosiasi antara kepolisian dan Mbah Petruk rupanya tak serta merta dapat berbuah positif. Selama lima jam bertarik-ulur, polisi-polisi itu pada akhirnya mengambil keputusan untuk menurunkan Mbah Petruk secara paksa.

Pada mulanya hanya satu regu polisi yang didatangkan dari markas, lengkap dengan alat-alat untuk mengevakuasi Mbah Petruk dari ketinggian menara. Di sisi lain, jiwa-jiwa juang para pengunjung pasar semakin terbakar di setiap detiknya. Kini, mereka tak akan begitu saja membiarkan para polisi penindas itu menurunkan maskot mereka dari singgasananya. Mereka siap melakukan segala sesuatu untuk mempertahankan juru selamat baru mereka—Mbah Petruk—yang akan menyelamatkan mereka dari ancaman monster Desti si pemakan kaki manusia.

Pada akhirnya, regu tersebut tak cukup juga untuk menembus pertahanan orang-orang pasar yang sedemikian rapat. Pasukan huruhara kemudian digenapkan sejumlah satu kompi, lengkap dengan tameng penahan dan pentungan. Di keempat sudut bangunan pasar ditempatkan penembak jitu—semua dengan alasan keamanan.

Maka terjadilah bentrokan di pasarpagi, meletus dan padam, meletus, kemudian padamlah pada akhirnya ketika senja datang. Sebanyak empatpuluh sembilan orang luka-luka, sedangkan satu orang tewas adalah Mbah Petruk. Ia tertembak oleh seorang sniper, kemudian jatuh dari ketinggian sepuluh meter. Si pengidap kudis kronis itu kini betul-betul telah mati.

 

***

Satu bulan semenjak kerusuhan pasarpagi, kota pun kini telah berangsur-angsur memperbaiki luka itu. Mbah Petruk sudah dimakamkan di pinggir tembok luar pasar; ia dimakamkan begitu saja, sebab tak ada seorang pun yang berani memandikan tubuhnya yang berkudis—kata orang, itulah kudis kronis.

Dan pasarpagi itu, kini pun masih tetap berisikan orang-orang lama, dengan kenangan-kenangan lama yang secara luget namun pasti, adalah bagian-bagian yang akan membentuk kepribadian mereka semua. Namun tak semua kenangan harus selalu tersimpan, bukan? Maka dalam benak yang paling dalam dari mereka semua, orang-orang pasar itu mencoba untuk mendewasakan tingkah dan laku mereka. Kenangan terhadap kerusuhan pasarpagi memang masih ada dan meninggalkan tapak-tapaknya dalam bawahsadar mereka. Namun, apakah nama dari semua kemalangan itu, mereka sama sekali tak pernah mengingatnya.

Di hari itu, pasar yang telah sebulan lengang akibat kerusuhan kini mulai terjamah kembali. Maka ketika mobil pertama datang dan memasuki kawasan pasarpagi itu, semua orang bersoraksorai.

Mobil yang datang pertama itu adalah sebuah truk yang tak begitu besar. Di belakangnya, sebuah mobil van mengikuti dengan santai. Yang paling pertama menurunkan muatan adalah truk yang depan, yakni muatan tenda yang akan segera dipasang seketika setelah diturunkan. Setelah pemasangan tenda tersebut selesai, maka keluarlah muatan mobil van yang ada di belakang. Muatan itu adalah delapan orang gadis cantik dengan kaus abu-abu ketat dan rok mini berwarna hitam.

Maka ketika promosi sandal model baru itu telah dibuka, berduyun-duyun orang-orang pasar mengerumuni gadis-gadis SPG yang segar-segar itu. Para tukang ojek yang sebenarnya tak punya uang pun ikut berkerumun.

Sebagian pengunjung ibu-ibu mulai merasa gerah melihat gadis-gadis SPG itu. Mereka teringat akan suami-suami mereka di rumah, dan entah mengapa mereka merasa sangat kesal terhadap mereka. Sambil mencari tempat yang lebih sejuk, berjalan mereka ke bagian belakang truk yang teduh. Salah seorang dari ibu-ibu itu adalah Mbak Las, si penjual ikan. Ialah yang paling gerah, karena suaminya juga ikut merubung salah seorang SPG yang bernama Lia. Bagaimanapun juga, ia masih dapat mendengar suara gadis itu berpromosi dengan nada yang centil:

“Silakan dicoba, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Sandal kesehatan “Desty” ini dapat membantu—me—rang—sssang—peredaran darah anda.”

Mbak Las mengeluh. Ingin sekali ia melupakan semua kejadian akhir-akhir ini. Atau mungkin saja, ia memang telah melupakan semuanya, juga tentang Mbah Petruk.

 

Wonosobo, 19 Juni 2011

12 juni 2010

Juni 12, 2010 - Leave a Response

kalaulah boleh manusia menyalahkan waktu. silakan. tapi waktu sendirilah yang memunculkan manusia, lalu manusia-manusia yang selanjutnya. pun manusia sadar bahwa pada akhirnya, waktu sendirilah yang akan menyudahi mereka. lihat, otak kita terdegradasi dengan sedemikian sistematisnya. seiring waktu berjingkat merayap, otakmu makin keropos, tulangmu makin mengkerut, dan semua yang ada di depan matamu–yang tentu saja siap kautangkap–menyublim begitu saja. tidakkah kau menyesal? maka itulah jawabmu. maka pergilah mencari pembenaran-pembenaran, sehingga cukuplah kau bersenjata untuk menyalahkan waktu. ucapkan sumpax serapax pada ia yang mana kau benar-benar kehilangan, atau barangkali cukuplah kau mengucapkan sebuah au revoir yang manis dengan lisan sengaumu. kau tak akan mendapatkan apa pun; entah profit ataupun rugi manakala kausalahkan waktu yang hening itu. silakan, jika kau ingin teriak: PERSETAN EMPAT JUNI DUARIBUSEPULUH! mungkin itu bisa menyembuhkanmu, penyakit manusiamu itu. hahaha

23 mei 2010

Juni 12, 2010 - Leave a Response

inilah lidah saya. kadang saya menyesal dan mensyukurinya sekaligus. kalau saja barang setajam itu mampu menggoresmu pada yang terdalam, maka hiduplah saya dalam kehinaan—macam ini—dan lebih pula manakala yang memiliki lidah ini tak pernah menyadarinya. saya benar-benar terdepak ke sumur terdalam, dan putuslah lidah ini pada diammu. sekali lagi, inilah lidah saya. saya benar-benar seperti kusir yang terjungkal dari tunggangannya. nda, ampunilah saya. bukalah lagi pembicaraan yang seperti dulu, agar tak lagi saya melompong seperti ini. dalam keyakinan, saya adalah orang yang percaya, terlebih bahwa kita masih bisa saling memahami. inilah lidah saya, nda. kenalilah saya lagi, sebab lebah ini tak hanya punya sengat. sekali saja sengat ini cerai, maka matilah makhluk pendengung ini, sendiri.

Where The NGAPAKS Meet The BANDHEKS

Mei 21, 2010 - Leave a Response

Pernah coba bermain software Ad*be Pho**sh*p? Bagi sodhara-sodhara yang rumaos tiyang Jawi, terutama yang berbahasa Jawa campuran antara dialek Jogja (standar) dengan dialek Banyumas (ngapak), tidak ada salahnya mencoba hal ini.

1. Carilah gambar peta pulau Jawa di internet (mintalah wejangan mBah Goooooooooooogle). Trus simpanlah di compie sampeyan.

2. Buka gambar peta itu di Ad*be Pho**sh*p.

3. Dengan menggunakan magic wand tool (atau selective tolls lainnya), blok dan hilangkan area laut di sekelilingnya.

4. Select dengan lasso tool dan hilangkan pulau-pulau di sekitarnya (termasuk Pulau Panaitan yang sangat dekat dengan Ujung Kulon Banten). Kini tinggal tersisa daratan utama Pulau Jawa saja.

5. Ini bagian yang paling utama: ROTATION. Cobalah melakukan transformation dengan mengeklik Ctrl-T. Putar gambar itu melalui bagian pojok dari area selection. Perhatikan sumbu rotasinya, daerah manakah itu?

pulau jawa yang dirotasi

Ternyata, secara kebetulan (atau tidak), kondisi geografis menentukan pola persebaran bahasa di suatu tempat. Wilayah Kabupaten Wonosobo yang menjadi sumbu rotasi rupanya benar-benar menjadi pusat dari Pulau Jawa, di mana logat Jawa Tengah bagian Timur dengan logat Jawa Tengah bagian Barat bertemu. Maka terciptalah dialek di mana orang mengucapkan vokal a sebagai o (misal: kata sapa dibaca sebagai sopo), namun masih menggunakan istilah nyong sebagai kata ganti orang pertama.

Kemudian, rupanya Bahasa Jawa logat Wonosobo rupanya bersifat distingtif, lain dari logat Banyumas maupun Jogja. Hal ini dapat dilihat dari cara pengucapan vokal suatu kata.

Orang Banyumas biasa mengucapkan vokal secara utuh (Jawa: swara miring), misalnya kata <kucing> tetap dibaca sebagai kUcIng. Lain dengan orang Banyumas, orang Jogja cenderung mengucapkan vokal pada sukukata terakhir dengan swara jejeg, jadi kata <kucing> dibaca menjadi kUcEng. Namun pada umumnya, orang Wonosobo asli akan mengucapkan vokal pada semua sukukata dengan swara jejeg, sehingga kata <kucing> akan dibaca menjadi kOcEng (mirip logat Surabaya yah?).

Untuk orang berlogat Banyumas maupun orang berlogat Jogja, tolong jangan ketawa silakan amati perbedaannya.

Sebagai perbandingan (urut dari logat Banyumas – Jogja – Wonosobo), inilah sample pengucapan kata-katanya:

kucing – kuceng – koceng

tikus – tikos – tekos

nulis – nules – noles

kepriwe – kepriye – prige (lhoh?)

mbadhog – mangan – mbedhug (apa-apaan ini?)😄

Yaaaaaaaaaaa, kurang lebihnya seperti itulah! Disudahi saja daripada tambah ngawur. Wes ndhengen yo, nek nyong kesuwen menthelengi monitor marai pegel nang moto. Ellerrrr ka

The Lament of the Reed Flute

Mei 21, 2010 - Leave a Response

Listen to this reed, how it makes complaint, telling a tale of separation: “Ever since I was cut off from my reed bed, men and women all have lamented my bewailing. I want a breast torn asunder by severance, that I may fully declare the agony of yearning. Everyone who is sundered far from his origin longs to recapture the time when he was united with it. In every company I have poured forth my lament, I have consorted alike with the miserable and the happy: each became my friend out of his own surmise, none sought to discover the secret in my heart. My secret indeed is not remote from my lament, but eye and ear lack the light to perceive it. Body is not veiled from soul, nor soul from body. Yet to no many is leave given to see the soul.”

This cry of the reed is fire, it is not wind; whoever possesses not this fire, let him be naught! It is the surge of love that bubbles in the wine. The reed is the true companion of everyone parted from a friend: its melodies have rent the veils shrouding our hearts. Whoever saw poison and antidote in one the like of the reed? Whoever saw sympathiser and yearner in one the like of the reed? The reed tells the history of the blood-bespattered way, it tells the stories of Majnun’s hopeless passion. Only the senseless is intimate with the mysteries of this Sense; only the heedful ear can buy what the tongue retails. Untimely the days have grown in our tribulation; burning sorrows have travelled along with all our days; yet if our days have all departed, bid them be gone—it matters not; only do Thou abide, O Thou incomparably holy! Whoever is not a fish is soon satiated with His water; he who lacks his daily bread, for him the day is very long. None that is inexperienced comprehends the state of the ripe, wherefore my words must be short; and now, farewell!

*) this is a great masterpiece of Mawlana Jalaluddin Muhammad Mawlawi Rumi

SUEDE – When The Rain Falls

Mei 21, 2010 - Leave a Response

Come out tonight in the puddles, splashing love across the sky

Just you and I, bursting bubbles as the sky is about to cry

When the rain falls, there’s magic in our lives

When the rain falls, we’re happy deep inside

When the rain falls, it cleans away the corners of our minds

When all the water (world?) looks like Atlantis

And cars are rusting in the drives

Just step outside, and hit the concrete pavements

As the rain falls down to you and I

When the rain falls, the pretty people run

When the rain falls, the colours cloud the sun

When the rain falls, we sit and watch the children hurry home

When everything is blue or grey or green or blue or grey

Cross the street and catch the beat of my heart

And I watch it all ‘cause there’s nothing else to do today

And I watch it all falls so hard

CERITA KAMPUS #2

Mei 21, 2010 - Leave a Response

Aku benderamu, hei Paskibra

Naik-turunkan aku sampai engkau lemah

Kalau sudah angin lewat—naikkan aku tanpa kibar

Kalau barat mengecupmu bangga—turunkan aku kuyu

Aku kata-kata, hei Bahasa

Bolak-balikkan andai belum lisan rekah

Kalau tinta pun tandas—rangkai kami serima

Kalau lengkaplah meja—kami terlamun

Kalau engkau lelap, matilah kami

Kalau engkau tutur, terbuang kami

Aku hitammu

Matiku, urunglah abu-abumu

03.48

wonosobo, 21012010

MUNGKIN PULA TIDAK

Mei 21, 2010 - Leave a Response

Zona transisi selalu ada di setiap milidetiknya, memacu dan memacu, dan tak ada hentinya gelegar pelor penanda garis start itu berulang, dan manusia selalu saja memberinya batasan-batasan yang tak sama, seiring bintang yang kau sebut matahari itu berputar, ataupun bebareng gundukan yang kaubilang bulan itu bergelayut pada perputaran buminya kita, atau mungkin pula bola-bola langit itu membentuk harmoni yang mystic, katanya hidup ini mau berakhir—mungkin pula tidak.

Zona transisi itu selalu ada, bilamana sekujur tubuhku bergerak di setiap milidetik ataupun dalam matra waktu yang tak terbatas, dalam setiap perpindahannya, gerak itu seperti sebuah kekakuan yang tak akan terasa sama bila kuasa agung itu tak menggerakkannya—mungkin pula tidak.

Zona transisi itu ada, meskipun kilasannya selalu semu namun kau tak akan tahu pasti kapan masa ini akan berakhir jikalau kau belum mendengar gaung terompet kertas itu bersahut gaduh, dan para peniup benda sepuluhribuan itu tak akan tahu waktunya untuk berbahagia jikalau jam atom itu belum mengembalikan elektron yang berjumpalitan itu ke tempat di mana ia berasal, maka kau akan terus menghitung mundur tanpa kelajuan yang pasti, dan kau akan berkata: semua itu nisbi—mungkin pula tidak.

Zona transisi itu ada, tentu saja kau tak akan mampu melihatnya karena sudah kubilang, bahwa mereka selalu memacui dalam setiap kedipan matamu, dalam setiap tapak jutaan langkah sang cheetah, dalam nukiknya burung albatross bersetubuh dengan angin, demikian pula gesitnya aku melarikan pandangan mata agar indera kita tak saling bertemu, namun semua tak ada artinya saat kau berkata: kamu adalah sebebas-bebasnya pawana yang langlang sambil lalu melupakan muasal—mungkin pula tidak.

Akhirnya, kalau semua itu telah usai, pulanglah mereka, satu-persatu, dengan perasaan yang bermacam pula setelah semua warna yang segera terbakar habis itu, lalu masuklah sebuah kehidupan baru, di mana mereka bertekad untuk menjalani sesuatu yang lebih mereka inginkan, atau mungkin malah kembali ke hari-hari yang sama saja di mana mereka selanjutnya akan berkesah gundah, dan berkata mereka: mungkin pula tidak.

Habislah tahun ini berlalu saja.

Mungkin pula tidak.

wonosobo, 2009-2010

LAWU – PAKUWAJA

Mei 21, 2010 - Leave a Response

tanpa kata kau ceritakan tempat sejuk itu

tubuh-tubuh itu, hellenistik dan mistik

bujangga dan pranata adalah tugu kejayaan

yang kian berkokoh dalam luwes sunyinya

lalu candra sempurna itu marak mengiringkan

kedua laki-bini yang hidup semalam-sehari saja

maka ke lereng Lawu kau berpaling dari segala keanggunan ini

kaulihat, di antara kita adalah segala hirukpikuk budaya dan kata-kata kita

adalah sama kita dalam bahasa dan aksara

di lereng Pakuwaja, kusunggingkan senyum dan gitapuja

juga dirgahayu bagimu

di lereng Pakuwaja, kukirimkan secarik frasa nawala:

aku ingin ke sana, Nda.

wsb, 16052010

Memoar 28072007

Agustus 6, 2009 - Leave a Response

Catatan penuh coretan ini

Takut buat bersuara

Disambangi penjepit dan pulpen karatan

Hurufhuruf jatuh

Melesak, bareng keluhkesah yang mendengus pasi

Catatan penuh coretan ini

Enggan menafikan ramai yang melengang

Mewakilkan anganku pada secoret lalang

Dan serapah bukan pada keacuhan

Jam dinding itu masih saja mati

Entah siapa – mereka malu buat sekedar memutar jarumnya

Barangkali enggan membantuku

Biar tahu seberapa lama aku memperhatikanmu

Masa kemarin dulu

Masa kemarin kini dan habis itu

Takut aku membayangkan esok

Lalu aku lari pada secabik tembakau

Pengorbanannya dipeluk puntung

Kopi dalam gelas kaleng selalu tak berarus

Dan masih saja pengorbanan yang urung

wsb, 10112007

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.