Orang-orang sedang heboh besar. Asal penyebabnya adalah Mbah Petruk. Ya, tadi pagi orang gila yang jago menebak buntutan itu datang lagi. Orang-orang mengira bahwa ia sudah mati ditabrak mobil. Versi lain menyebutkan bahwa ia mati karena kena penyakit kudis. Kudis kronis, kata orang-orang. Tapi Mbah Petruk rupanya tidak begitu saja mati—ia bangkit dari kematian untuk mendatangi orang-orang, kembali dengan wahyu yang ia dapat dari sesosok dewa.
Ada banyak sekali cara Mbah Petruk dalam menyisipkan kehebohan di sela-sela keramaian pasarpagi itu. Tak perlu membayangkan macam-macam, pun tak perlu takut lagi seandainya ia mengibas-ngibaskan lengannya yang penuh kudis sambil berlari melintasi tengah-tengah pasar. Sekarang metode penularan kudis itu sudah terlalu kuno baginya. Ia sekarang hanya memanjat sebuah tower air milik kantor dinas pasar, kemudian duduk rileks di puncaknya sambil melinting kawung.
Orang-orang sudah pada berteriak seperti melihat anak kecil yang sedang bermain-main api. Bu Genuk si bakul bumbon berteriak paling nyaring:
“Mbah, turun! Kalau mau mati, matinya yang biasa saja dong, Mbah!”
“Iya, Mbah! Nanti juga kita mandikan kok,” hansip Mingan menimpali.
Mbah Petruk kemudian bangkit dari duduknya. Gerakannya lincah mirip anak kecil. Padahal, almarhum nenekku saja dulu memanggilnya dengan sebutan paklik—bapak cilik. Berarti, aku seharusnya memanggilnya dengan istilah yang agak merepotkan.
Mbah-buyut-cilik itu kemudian memukul-mukul tandon yang terbuat dari plastik, membuyarkan konsentrasi orang-orang pasar yang sedari tadi terlalu sibuk meributkan diri satu sama lain. Tumben sekali Mbak Mah, si kaleng-seng-bocor itu, kali ini mau merelakan dirinya untuk diam; terutama untuk mendengarkan orang gila itu ceramah. Sementara itu, jauh di ibukota sana, tuan Presiden cemburu karena tak ada orang yang betah mendengarkan pidatonya.
Mbah Petruk mulai menguluksalam: “Asalamungalekum—kum—kum!”
Kemudian, dari mulut yang sudah berkerut-kerut mirip bekicot kering itu, muncul cerita tentang datangnya sesosok makhluk yang bernama Desti. Saking seriusnya orangtua itu bercerita, tak ada satu pasang pun bibir di pasar induk ini yang sudi mengatup. Orang-orang yang sebelumnya berdiri di kejauhan, mulai bergerak mendekati menara air.
“Hai anak-anakku semua,” Mbah Petruk menurunkan nada bicaranya. Suara bisik-bisik di antara para pengunjung pasarpagi kini benar-benar menghilang. Semua khidmat mendengarkan santiaji Mbah Petruk.
“Ketahuilah bahwa makhluk itu, yang bernama Desti, gemar sekali memangsa kaki manusia, anak-anakku—kaki manusia! Kuperingatkan kalian, bahwa dalam setiap lima keluarga, akan ada satu kepala yang dikorbankan kepadanya.”
“Setan alas,” hansip Mingan menggerutu.
Mbak Las, si penjual ikan, bertanya-tanya kepada pedagang di sebelahnya, ”Apa yang harus kita perbuat, Yu?”
Salah seorang pengunjung rupanya telah menghubungi polisi sesaat setelah Mbah Petruk sampai di atas menara air. Bunyi sirene kini terdengar meraung-raung di luar gerbang pasar. Orang-orang menaruh sikap awas terhadap kedatangan tamu baru mereka. Mereka selama ini memang tidak dapat mempercayai Mbah Petruk, karena orang-orang waras ini tak akan pernah dapat memahami satu pun perkataan orang gila itu. Tapi entah kenapa pula sebabnya, saat ini naluri mereka mengatakan: Mbah Petruk adalah penyelamat mereka.
Sebanyak delapan orang polisi mulai bergerak memasuki gerbang pasar. Dengan suatu cara, kerumunan orang pasar rupanya dapat membuat mereka kesulitan mencapai menara air tempat Mbah Petruk berada. Seorang polisi kemudian mengeluarkan sebuah megafon. Ia kemudian mulai memanggil si penunggu menara air.
“Mbah Petruk, anda bisa mendengar saya?”
Yang dipanggil justru semakin asyik menyedot lintingan kawungnya. Polisi itu tak akan keburu menyerah. Berteriak lagi ia:
“Mbah, kami mohon, Mbah. Demi ketertiban umum, Simbah turun.”
“Kalian jangan seenaknya memanggil nama orang. Kalian bukan cucuku,” jawab Mbah Petruk ketus.
Negosiasi antara kepolisian dan Mbah Petruk rupanya tak serta merta dapat berbuah positif. Selama lima jam bertarik-ulur, polisi-polisi itu pada akhirnya mengambil keputusan untuk menurunkan Mbah Petruk secara paksa.
Pada mulanya hanya satu regu polisi yang didatangkan dari markas, lengkap dengan alat-alat untuk mengevakuasi Mbah Petruk dari ketinggian menara. Di sisi lain, jiwa-jiwa juang para pengunjung pasar semakin terbakar di setiap detiknya. Kini, mereka tak akan begitu saja membiarkan para polisi penindas itu menurunkan maskot mereka dari singgasananya. Mereka siap melakukan segala sesuatu untuk mempertahankan juru selamat baru mereka—Mbah Petruk—yang akan menyelamatkan mereka dari ancaman monster Desti si pemakan kaki manusia.
Pada akhirnya, regu tersebut tak cukup juga untuk menembus pertahanan orang-orang pasar yang sedemikian rapat. Pasukan huruhara kemudian digenapkan sejumlah satu kompi, lengkap dengan tameng penahan dan pentungan. Di keempat sudut bangunan pasar ditempatkan penembak jitu—semua dengan alasan keamanan.
Maka terjadilah bentrokan di pasarpagi, meletus dan padam, meletus, kemudian padamlah pada akhirnya ketika senja datang. Sebanyak empatpuluh sembilan orang luka-luka, sedangkan satu orang tewas adalah Mbah Petruk. Ia tertembak oleh seorang sniper, kemudian jatuh dari ketinggian sepuluh meter. Si pengidap kudis kronis itu kini betul-betul telah mati.
***
Satu bulan semenjak kerusuhan pasarpagi, kota pun kini telah berangsur-angsur memperbaiki luka itu. Mbah Petruk sudah dimakamkan di pinggir tembok luar pasar; ia dimakamkan begitu saja, sebab tak ada seorang pun yang berani memandikan tubuhnya yang berkudis—kata orang, itulah kudis kronis.
Dan pasarpagi itu, kini pun masih tetap berisikan orang-orang lama, dengan kenangan-kenangan lama yang secara luget namun pasti, adalah bagian-bagian yang akan membentuk kepribadian mereka semua. Namun tak semua kenangan harus selalu tersimpan, bukan? Maka dalam benak yang paling dalam dari mereka semua, orang-orang pasar itu mencoba untuk mendewasakan tingkah dan laku mereka. Kenangan terhadap kerusuhan pasarpagi memang masih ada dan meninggalkan tapak-tapaknya dalam bawahsadar mereka. Namun, apakah nama dari semua kemalangan itu, mereka sama sekali tak pernah mengingatnya.
Di hari itu, pasar yang telah sebulan lengang akibat kerusuhan kini mulai terjamah kembali. Maka ketika mobil pertama datang dan memasuki kawasan pasarpagi itu, semua orang bersoraksorai.
Mobil yang datang pertama itu adalah sebuah truk yang tak begitu besar. Di belakangnya, sebuah mobil van mengikuti dengan santai. Yang paling pertama menurunkan muatan adalah truk yang depan, yakni muatan tenda yang akan segera dipasang seketika setelah diturunkan. Setelah pemasangan tenda tersebut selesai, maka keluarlah muatan mobil van yang ada di belakang. Muatan itu adalah delapan orang gadis cantik dengan kaus abu-abu ketat dan rok mini berwarna hitam.
Maka ketika promosi sandal model baru itu telah dibuka, berduyun-duyun orang-orang pasar mengerumuni gadis-gadis SPG yang segar-segar itu. Para tukang ojek yang sebenarnya tak punya uang pun ikut berkerumun.
Sebagian pengunjung ibu-ibu mulai merasa gerah melihat gadis-gadis SPG itu. Mereka teringat akan suami-suami mereka di rumah, dan entah mengapa mereka merasa sangat kesal terhadap mereka. Sambil mencari tempat yang lebih sejuk, berjalan mereka ke bagian belakang truk yang teduh. Salah seorang dari ibu-ibu itu adalah Mbak Las, si penjual ikan. Ialah yang paling gerah, karena suaminya juga ikut merubung salah seorang SPG yang bernama Lia. Bagaimanapun juga, ia masih dapat mendengar suara gadis itu berpromosi dengan nada yang centil:
“Silakan dicoba, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Sandal kesehatan “Desty” ini dapat membantu—me—rang—sssang—peredaran darah anda.”
Mbak Las mengeluh. Ingin sekali ia melupakan semua kejadian akhir-akhir ini. Atau mungkin saja, ia memang telah melupakan semuanya, juga tentang Mbah Petruk.
Wonosobo, 19 Juni 2011
